Sunday, October 2, 2016

SERUAN CARDINAL RUINI KEPADA PAUS FRANCIS

SERUAN CARDINAL RUINI KEPADA PAUS FRANCIS : DALAM MENCARI DOMBA YANG HILANG, JANGANLAH MENEMPATKAN DOMBA YANG MASIH SETIA, DI DALAM BAHAYA.

Thursday, September 29, 2016


Adanya upaya pembelaan (terhadap Ajaran Gereja yang sejati) dari umat beriman (umat awam) masih lebih baik daripada sikap diam dari para pejabat Gereja.


Cardinal Camillo Ruini’s Mission to Pope Francis: Praying to
the Lord, that the papal quest for the lost sheep does not cause
difficulties for the faithful sheep

(Roma) The Corriere della Sera kemarin menerbitkan sebuah wawancara panjang dengan Camillo Kardinal Ruini. Kesempatan itu dilakukan pada saat penerbitan bukunya yang baru C'è un dopo? La morte e la speranza (Apakah Ada Hari Setelah Hari Ini? Kematian dan Harapan) yang diterbitkan oleh Mondadori. Pada akhir wawancara itu kardinal Ruini membuat pernyataan, "yang berhubungan dengan tanda tanya besar tentang masa kepausan sekarang ini," demikian tulis surat kabar harian Il Foglio:

“Aku memohon kepada Allah agar pencarian terus menerus atas domba yang hilang tidak sampai merusak hati nurani domba yang masih setia.”

Petisi tersebut mengungkapkan keinginan bahwa isyarat menyesatkan dan ambigu serta ucapan-ucapan Paus yang memerintah saat ini, demi kepentingan orang yang tidak percaya, tidak sampai menimbulkan kesalahpahaman dan mengabaikan umat yang masih setia. Pencarian atas domba yang hilang janganlah membuat domba yang masih setia berada dalam bahaya.

Hal ini mengacu kepada pernyataan-pernyataan spontan yang dibuat oleh Francis kepada pers seperti misalnya mengenai terorisme (Islam), yang tidak bisa dibandingkan dengan tindakan perang. Atau pernyataan lainnya yang juga menyebalkan kita tentang umat Kristiani yang telah dibaptis, yang "membunuh" ibu mertua mereka, dimana mereka tidak lebih baik daripada teroris Islam yang beraksi melakukan penyembelihan imam selama Misa Kudus, dengan cara menggorok leher seorang imam Katolik di altar di Rouen dan kemudian memenggal kepalanya.

Permohonan Kardinal Ruini ini menyatakan keprihatinannya bahwa pesan-pesan dan ucapan paus yang menjengkelkan itu mungkin tidak akan mempengaruhi orang-orang yang telah berada jauh dari iman, tetapi hal itu cenderung untuk mendorong dan menjerumuskan orang-orang yang masih setia kepada kebingungan, dan hal itu bisa menyulut sengketa dan konflik internal di dalam Gereja. Hal ini memang tidak akan menghidupkan kembali Gereja di Barat yang telah bersikap apatis, tetapi tindakan paus itu akan menjauhkan Gereja Barat dari sebuah pembaharuan, demikian kata Il Foglio.

"Perkataan Ruini juga mencerminkan pengamatan lainnya: Revolusi harian yang dipicu oleh Uskup Roma (Francis) – yang selalu cenderung untuk melakukan dialog dengan kelompok non-Katolik dan tidak pernah menasihati umat Katolik dengan nada kebapakan – dimana hal ini menyebabkan rasa ketidak-nyamanan yang tidak hanya terlihat oleh para kolumnis atau yang disebut sebagai ‘kaum tradisionalis nostalgia’, tetapi juga oleh banyak umat Katolik yang tidak pernah membaca atau mengetahui Summa Theologica dari St. Thomas Aquinas yang tergeletak di meja samping tempat tidur mereka. Pandangan Kardinal Ruini ini merupakan indikasi dari kurangnya orientasi, dengan apa keuskupan Italia merasa tergagap dan terpaku karena mereka tidak tahu apa-apa, dimana Kardinal Ruini tahu banyak, terutama sekarang ini, karena kekuatan-kekuatan baru seolah ditanamkan paksa kepada jalan yang baru (versi Francis), dalam upaya pencarian gembala yang ‘berbau’ domba," demikian kata Matteo Matzuzzi, seorang ahli mengenai Vatikan dari Il Foglio.

Kardinal Ruini adalah sahabat dekat dari Paus Yohanes Paulus II. Di Italia, dari 1991-2008 dia adalah Kardinal Vikaris Roma dan pada saat yang sama dari 1991-2007, dia menjadi Presiden Konferensi Waligereja Italia. Kenaikan Ruini di dalam jabatan Gereja dimulai ketika uskup pembantu pada keuskupan setempat, Reggio Emilia dan Guastalla, pada tahun 1985 menunda ‘pergeserqan’ pasca-konsili di Loreto pada "Kongres Gereja " kedua di Italia, di mana dia dengan berani menghadapi mayoritas kelompok progresif dalam keuskupan Italia, yang termasuk di dalamnya adalah Cardinals Anastasio Ballestrero OCD dan Carlo Maria Martini SJ dan imam muda Bruno Forte, yang diijinkan untuk memberikan pidato pengantar, seperti halnya Kardinal Walter Kasper pada Konsistori Kardinal pada bulan Februari 2014. Ballestrero dipilih oleh Paus Paulus VI pada tahun 1977 sebagai Presiden Konferensi Waligereja. Ruini telah berani menghadapi mayoritas kelompok progresif di dalam Gereja yang diawali oleh Paus Yohanes Paulus II dan yang ditolak oleh kelompok progresif dan dianggap sebagai "upaya restorasi." Tahun itu Ruini diangkat oleh Yohanes Paulus II sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja.


Read the full article at Eponymous Flower


No comments:

Post a Comment